Senin, 21 Oktober 2019

ROKAN-HULU

Harga Sawit dan Karet Murah, Petani di Rohul Menjerit

news24xx


Ilustrasi Ilustrasi

RIAU1.COM - Harga komoditi karet dan kelapa sawit semakin tak menentu, hal ini membuat perekonomian para petani di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau kian terpuruk.

Sejak tahun 2015 hingga saat ini, dan semakin parah sejak beberapa bulan terakhir ini, harga dua komoditi masih jauh dari harapan para petani.

Seorang petani kelapa sawit di KM 6, Desa Sukamaju, Kecamatan Rambah, Rohul, Dedy mengungkapna, dua bulan terakhir harga jual kelapa sawit yang dibeli para tengkulak (toke) hanya Rp700 per kilogramnya.

"Kondisi ini mengakibatkan ekonomi petani seperti kami menjadi sulit. Rata-rata 500 kilogram per dua pekan hasilnya untuk satu hektar," kata Dedy, Senin 24 Juni 2019.



BACA JUGA : Dinas Pendidikan Rohul Siapkan Anggaran Untuk SDN 006 Yang Rusak Parah

Iklan Riau1

"Dan kita hanya mendapatkan Rp350 ribu per hektar, itu belum termasuk upah panen yang harus dikeluarkan sekitar Rp200 sampai Rp300 per kilogramnya," jelasnya.

Dedy pun menginginkan pemerintah bisa menjamin harga kelapa sawit petani lebih membaik. Apalagi adanya program sawit untuk rakyat yang tengah digalakan di Rohul saat ini. Harapannya, kesejahteraan masyarakat bisa lebih terjamin.

"Karena, untuk apa program sawit rakyat diterapkan bila harga tidak terjamin. Program dibuat, seharusnya bisa tingkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di Rohul ini," ujarnya.

Hal yang sama juga dialami petani karet, yang sekarang ini harga jual dalam dua bulan terakhir ini, rata-rata di bawah Rp9 ribu per kilogramnya.



BACA JUGA : Diapit Pabrik Dan Pernah Minta Bantuan, Kondisi SDN 006 Di Rohul Ini Rusak Parah

"Pekan kemarin, harga karet petani hanya Rp8 ribu per kilogramnya. Sementara penghasilan yang kita dapat, harus bagi 50 persen dengan yang menakik (penderes karet)," ungkap Anis, petani karet Desa Sialang Jaya, Kecamatan Rambah.

"Bahkan bila kebunnya jauh dari kampung, dua untuk pemilik dan tiga untuk penyadap. Tetapi harus bagaimana lagi, itulah kondisi saat ini," paparnya.

Anis juga berharap Pemkab Rohul bisa mencarkan solusi. "Sebagai petani, kita merasa sangat sulit sekali. Berharap Pemkab Rohul bisa carikan solusi, agar ekonomi masyarakat bisa membaik kedepannya," tukasnya.

Dampak terpuruknya ekonomi petani di Rohul, juga dirasakan sejumlah pedagang. Karena daya beli masyarakat menurun, "Pemilik rumah makan di Rohul, kini menyiasati dengan menurunkan harga jual. Kalau biasanya bisa Rp13 ribu hingga Rp19 ribu, kini serba Rp10 ribu," kata Edi, pedagang nasi di Pasir Pangaraian.





Loading...