Peserta Jungle Track 2019 Kenalkan Pesona Rimbang Baling Ke Masyarakat Luas

14 Juli 2019
Suasana pembukaan jungle track 2019 (Foto: Zar/Riau1.com)

Suasana pembukaan jungle track 2019 (Foto: Zar/Riau1.com)

RIAU1.COM - Pengalaman berharga saat melahap 10 kilometer rintangan denga cara berjalan kaki di pinggir Sungai Subayang Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau tak bisa dilupakan oleh salah satu komunitas pecinta alam yang menamakan diri mereka dengan sebutan Awan Senja Adventure (ASA), Novi, Minggu, 14 Juli 2019.

Novi merupakan salah satu peserta Jungle Track dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, Kabupaten Kampar, 13-14 Juli 2019 digelar oleh BBKSDA Riau.

Pengalaman berharganya itu ketika melihat langsung betapa jernihnya air sungai ditengah kondisi alam Riau ditempat yang berbeda rusak akibat pembalakan liar dan kehadiran perkebunan kelapa sawit hingga HTI.

"Disini sungainya jernih sekali. Ini pengalaman pertama saya kalau masih ada sugai yang jernih seperti ini di Riau. Sayang kalau sampai dirusak seperti sungai-sungai lainnya," sebutnya saat beristirahat di Pos 3.

Selain melihat langsung kejernihan sungai, Novi mengaku saat melahap rintangan, masih mendengar pekikan binatang seperti, beruk dan suara burung. Tanda keasrian alam tetap dijaga.

Rimbang Baling juga disebut-sebut sebagai tempatnya flora dan fauna yang kini terancam punah. Salah satunya tempat tinggal harimau sumatera dan tapir.

Suaka margasatwa yang memiliki luasan 136 ribu hektare itu juga memiliki tempat wisata andalan lainnya. Seperti objek wisata air terjun Batu Dinding dan pemandian Sungai Lalan.

"Kita akan perkenalkan keindahan alam Riau ini melalui media sosial kami. Bahwa di Riau masih ada yang seperti ini," jelasnya.

Sementara itu, Fitri yang tergabung dengan peserta berbeda lainnya akan mengkampanyekan kondisi memprihatinkan dari hutan yang masih tersisa di Rimbang Baling.

Fitri melihat langsung selama diperjalanan terdapat tumpukan kayu olahan di beberapa titik seperti Pos 2 dan 3 di Suaka Margasatwa.

Kuat dugaan, bukti tumpukan kayu siap pakai itu adalah salah satu aksi ilegal loging yang tak sempat diangkut oleh para pelaku menggunakan jalur air.

"Kita akan mengkampanyekan ini di media sosial. Kami tak mau kalau Rimbang Baling rusak karena aksi pembalakan liar," imbuhnya.

Untuk menuju ke sana, beberapa peserta ini menggunakan jalur darat melalui Desa Muara Bio menuju Desa Tanjung Belit yang merupakan daerah penyangga kawasan konservasi. Berjarak 100 km dari Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Untuk akses masuk ke dalam kawasan lindung, peserta dibawa oleh panitia menggunakan piyau (perahu tradisional), yang merupakan transportasi air masyarakat sekitar.