
CEO Bukalapak Achmad Zaky.
RIAU1.COM - Masih Viral di Medsos. Tawuran antara Tagar Uninstall Bukalapak dan Uninstall Jokowi.
Gara-gara, Pada Kamis (14/2/2019), Achmad Zaky menulis di akun Twitter-nya, @achmadzaky, mengenai dana riset dan pengembangan (Research & Development/R&D) di Indonesia.
Dia menyinggung dana R&D di Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara lain, mulai dari Amerika Serikat sampai Malaysia.
Seperti dikutip Riau1.com dari bisnis.com, Minggu, 17 Februari 2019, Barangkali tulisan Zaky tidak akan dipersoalkan apabila dia tidak menulis "Mudah2an presiden baru bisa naikin" atau harapannya atas "presiden baru" dapat meningkatkan anggaran R&D itu.
Tidak terhindarkan, tulisan itu ditafsirkan beragam oleh masyarakat. Salah satu tafsir yang berkembang, walaupun telah dibantah oleh Zaky, bahwa dia berharap adanya "presiden baru" menggantikan "presiden lama" sekarang yaitu Jokowi. Kalau Presiden Baru mengarah ke Prabowo Subianto.
Seperti diketahui, Jokowi kembali mencalonkan diri sebagai Presiden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 menghadapi mantan Danjen Kopassus TNI Prabowo Subianto.
Pernyataan Zaky ditafsirkan oleh sebagian orang bahwa dirinya berharap posisi presiden sekarang yang dipegang oleh Jokowi digantikan oleh Capres Prabowo Subianto.
Di samping itu, Zaky juga dituding sebagian orang bahwa dirinya tidak berterima kasih atas dukungan yang diberikan Presiden Jokowi atas nama pemerintah terhadap Bukalapak selama ini. Sebagian orang kemudian memelesetkan nama Bukalapak sebagai Lupabapak.
Namun tidak perlu dipaksa juga, di era demokrasi ini khususnya dalam Pilpres 2019, semua anak bangsa bebas menentukan pilihan Presiden nya. Apakah Presiden yang lama atau Presiden Baru.
Sementara itu bagi pendukungnya, Jokowi dianggap mendukung Bukalapak, tapi sebaliknya, Zaky dianggap tidak mendukung Jokowi. Dia kemudian diserang habis-habisan oleh pendukung Jokowi di media sosial.
Namun pendukung Prabowo Subianto tetap mendukung Bukalapak dan Achmad Zaky. Achmad Zaky dianggap sang visioner dan membuka banyak lapangan kerja. Ribuan orang menggantungkan hidup di Bukalapak. Tak perlu dihapus atau Uninstall.
Sementara itu Melalui tagar #UninstallBukalapak, mereka pendukung Jokowi menyerukan para pengguna Bukalapak untuk menghapus (uninstall) aplikasi Bukalapak di telepon genggam masing-masing.
Namun, di hari yang sama, sebagian pengguna media sosial lainnya justru menyerukan #UninstallJokowi. Tagar itu kemudian menyaingi tagar #UninstallBukalapak, bahkan sempat menjadi tagar yang paling populer di Twitter seluruh dunia pada Jumat (15/2).
Kontroversi ini sebenarnya tidak dimulai oleh Jokowi, tapi dibelokkan ke arah dirinya, di media sosial. Zaky yang berbicara tentang dana R&D dan harapannya supaya anggaran ditingkatkan oleh "presiden baru", tapi justru Jokowi yang diserang. Karena konotasi Presiden Baru nanti mengarah ke Prabowo Subianto.
Situasi ini mengingatkan terhadap pernyataan bernada canda yang sering dilontarkan para pendukung Jokowi bahwa "semua salah Jokowi" atau pernyataan yang menyiratkan makna bahwa peristiwa apapun yang terjadi di Indonesia merupakan "kesalahan Jokowi".
Siapa pengguna media sosial yang menyerukan tagar #UninstallJokowi? Dari sekian banyak akun Twitter, salah satunya adalah akun resmi Partai Gerindra, @Gerindra. Akun yang telah terverifikasi dengan 378.000 pengikut itu beberapa kali menyematkan tagar #UninstallJokowi dalam cuitannya di Twitter.
Ditemui di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (16/2), seusai bertemu Zaky yang meminta maaf secara langsung kepadanya, Jokowi hanya menjawab dengan senyum atas pertanyaan jurnalis mengenai seruan #UninstallJokowi ini.
Apa yang bisa kita cermati dari situasi di media sosial menjelang pemilu pada 17 April 2019? Pertama, pertarungan antar pendukung pasangan calon presiden terjadi sangat sengit di media sosial. Masing-masing pihak, baik pendukung Jokowi maupun Prabowo Subianto, berusaha memanfaatkan situasi untuk menyerang pihak yang dibayangkan sebagai "lawan".
Pernyataan atas "presiden baru" tidak dapat diterima oleh pendukung Jokowi dan dibalas dengan seruan #UninstallBukalapak. Seruan #UninstallBukalapak itu dibalas oleh pihak lain dengan seruan #UninstallJokowi.
Dalam tawuran virtual ini, mereka yang berada di masing-masing kubu melempar aneka tagar sebagai senjata.
Aksi lempar tagar ini telah berlangsung selama beberapa tahun dan kemungkinan akan terus berlangsung, entah sampai kapan.
Kedua, pernyataan terkait "presiden" baru dengan nada negatif yang dilontarkan oleh pelaku usaha dengan reputasi tinggi ternyata berpengaruh terhadap banyak hal, mulai dari keberlangsungan dan citra bisnis sampai menimbulkan "tawuran" virtual.
Apapun itu, sama seperti tagar-tagar lain, tagar #UninstallBukalapak atau #UninstallJokowi pasti akan tenggelam oleh isu atau tagar lain yang terus bermunculan setiap saat dalam dunia digital yang terus berputar cepat ini.
Kendati demikian, aneka tagar ini akan menjadi penanda bahwa sebuah tawuran virtual pernah terjadi, berdampak secara bisnis dan politis serta berakhir seiring berjalannya waktu.
Inilah dinamika politik (dan juga bisnis) di era media sosial. Pilihan orang tidak bisa dipaksa. Ini alam demokrasi. Bebaskan saja mereka memilih siapa, Presiden Baru atau Presiden Lama.
R1/Hee