Pemko Pekanbaru Gencar Wujudkan Kota Bebas Stunting, Kasus Turun Drastis Hingga 8,7 Persen

21 Agustus 2024
Sekdako Pekanbaru Indra Pomi Nasution. Foto: Surya/Riau1.

Sekdako Pekanbaru Indra Pomi Nasution. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Pemko terus menggencarkan upaya untuk mewujudkan Pekanbaru bebas stunting (gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi). Dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045, penanganan stunting menjadi salah satu program prioritas dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Pemko Pekanbaru telah melaksanakan berbagai program pencegahan dan penanganan stunting secara komprehensif. Program ini memerlukan sinergi dari semua pihak, termasuk seluruh masyarakat, terutama remaja dan orang tua yang memiliki peran penting dalam pencegahan stunting.

Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Pekanbaru Indra Pomi Nasution yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Rabu (21/8/2024), menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang memicu terjadinya stunting. Faktor-faktor ini termasuk rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, buruknya pola makan, pola asuh yang tidak memadai, serta penyakit yang menyertai dan kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Selain itu, keterbatasan akses keluarga terhadap makanan bergizi seimbang, infeksi berulang, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan lingkungan yang kurang bersih juga menjadi penyebab stunting.

"Inilah alasan mengapa kami aktif melakukan penyuluhan ke masyarakat. Agar, masyarakat memahami dan mampu mencegah faktor-faktor yang dapat menyebabkan stunting," ujarnya.

Sejak pemerintah pusat menginstruksikan daerah untuk memprioritaskan penanganan stunting, Pemko Pekanbaru telah meluncurkan berbagai inisiatif. Inisiatif itu berupa pembentukan TPPS di tingkat kota, kecamatan, hingga kelurahan.

"Kami juga telah melakukan audit kasus stunting dan serta melaksanakan program Bapak atau Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS). Program BAAS ini melibatkan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD), jajaran Forkopimda, pihak swasta, dan BUMN, sehingga penanganan stunting dapat berkelanjutan dan diatasi secara kolektif," ucap Indra Pomi.

Dari berbagai upaya yang dilakukan, kasus stunting di Pekanbaru sudah menurun drastis. Prevalensi stunting mencapai 34,7 persen pada 2013. Prevalensi stunting turun menjadi 8,7 persen pada 2023. Hal ini merujuk pada data dari Riset Kesehatan Dasar, Survei Status Gizi Indonesia, dan Survei Kesehatan Indonesia.