Manusia Silver di Simpang Lampu Merah SKA Pekanbaru, Hasilkan Rp100.000 dalam 4 Jam

7 Februari 2021
Manusia Silver di salah satu simpang lampu merah Jalan Ahmad Yani. Foto: Surya/Riau1.

Manusia Silver di salah satu simpang lampu merah Jalan Ahmad Yani. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Panas terik matahari tak dihiraukan membuat gerah pengendara motor yang berhenti di persimpangan lampu merah SKA, Sabtu (7/2/2021). Dari arah zebra cross terlihat seorang pria tanpa mengenakan baju. 

Seluruh badannya dilumuri cat berwarna perak. Wajahnya ditutup dengan masker hitam. 

Bisa saja agar tak dikenali orang lain. Bisa juga untuk melindungi diri dari kepulan asap kendaraan. 

'Manusia Silver', begitu sebutannya. Manusia ini berjalan seperti layaknya robot. Langkah kaki yang kaku menjadi perhatian pengendara. 

Sembari membawa sebuah kotak, manusia silver ini meminta-minta agar diberi uang ke pengendara. Terkadang ada yang memberi tapi ada juga yang tak mengacuhkan. 

Manusia silver ini terkumpul dalam sebuah komunitas. Namun, ada jaga yang berjalan sendiri-sendiri meminta-minta di persimpangan lampu merah. 

Seperti halnya Ucok. Sebut saja namanya demikian. Ia memang meminta namanya dirahasiakan. 

Ucok mengaku berasal dari Medan, Sumatera Utara. Namun sejak usia sekolah, ia sudah merantau seorang diri ke Provinsi Riau.

Kerja apa saja yang penting bisa makan. Pekerjaan yang mampu dijalaninya hanya sebagai buruh bangunan. 

Saat ini, Ucok sudah berusia 28 tahun. Tak jelas tujuan hidup ke depan. Bagi Ucok, hari ini dan besok bisa makan dengan berperan sebagai manusia perak yang meminta-minta di persimpangan lampu merah. 

"Saya hidup sendiri merantau dari Medan. Tapi saya sudan enam tahun di Pekanbaru. Saya tak punya keluarga dan belum menikah," ungkapnya meski sempat menolak berbicara mengenai pekerjaannya. 

Ia menceritakan, ia tak punya pekerjaan beberapa bulan lalu. Sembari mencari pekerjaan, Ucok melihat manusia perak di persimpangan lampu merah sembari mengharapkan pundi-pundi Rupiah. 

"Awalnya bukan saya. Saya melihat orang itu menghasilkan uang, saya ikut-ikutan saja," tutur Ucok.

Ia pun mempelajari bahan yang digunakan manusia perak tersebut. Ternyata, cat yang dilumuri ke badan hanya cat minyak berwarna silver.

"Saya pakai cat minyak. Saya cat sendiri. Kadang ada kawan yang membantu mengecat," ungkap Ucok.

Usai mengecat badan, Ucok ke persimpangan lampu merah yang telah dipilihnya. Dengan tubuh yang telah dilumuri cat minyak mulai dari rambut hingga ke ujung kaki, Ucok mulai berjalan seperti robot sembari membawa kotak agar diberi uang. 

"Saya melakukannya tidak setiap hari. Kadang siang, kadang sore. Dalam cuaca panas ini biasanya antara tiga hingga empat jam. Kalau hujan deras gak narik," sebut Ucok. 

Bukan main, uang yang dihasilkan antara Rp50.000 hingga Rp100.000 dalam waktu empat jam. Uang ini cukup untuk bertahan hidup dan membeli cat minyak lagi.

"Uangnya cukup untuk makan. Pekerjaan seperti ini tidak setiap hari juga saya jalani," ujarnya sembari berlalu.