Senin, 14 Oktober 2019

NASIONAL

Rentetan Gempa Banten Pertanda Bakal Terjadi Megathrust, Ini Kata BMKG

news24xx


Ilustrasi Seismograf, alat pencatatan gempa bumi.  Ilustrasi Seismograf, alat pencatatan gempa bumi.

RIAU1.COM - Rentetan gempa Banten pertanda bakal terjadi gempa besar atau Megathrust. 

Monitoring BMKG menunjukkan bahwa sejak awal Agustus 2019 telah terjadi rentetan aktivitas gempa bumi di Busur Subduksi Sunda.

Aktivitas gempa signifikan ini tersebar dari Segmen Megathrust Mentawai-Siberut hingga Segmen Megathrust Sumba. 

Seperti dilansir bisnis.com, Selasa, 13 Agustus 2019, Diawali dengan peristiwa gempa kuat dan merusak di Banten berkekuatan M 6,9 pada 2 Agustus 2019 lalu, hingga hari ini rentetan gempa masih terus mengguncang.

Hari ini saja sudah 2 kali wilayah selatan Bali dan Banyuwangi diguncang gempa berkekuatan M 4,9. 



BACA JUGA : Blanko Terbatas dari Kemendagri, 59 Ribu Warga Kabupaten Bekasi Belum Miliki E-KTP

Iklan Riau1
 

Sejak awal Agustus 2019 tercatat di Busur Subduksi Sunda sudah lebih dari 8 kali terjadi gempa signifikan yaitu.

1. 2 Agustus 2019 Gempa Selatan Banten M 6,9
2. 3 Agustus 2019 Gempa Sukabumi M 4,4
3. 9 Agustus 2019 Gempa Sumba M 4,3
4. 10 Agustus 2019 Gempa Tasikmalaya dan Pangandaran M 4,0
5. 10 Agustus 2019 Gempa Tasikmalaya dan Pangandaran M 5,1
6. 11 Agustus 2019 Gempa Pariaman M 5,2
7. 11 Agustus 2019 Gempa Selatan Selat Sunda M 5,1.
8. 12 Agustus 2019 Gempa Selatan Bali dan Banyuwangi M 4,9

Rentetan gempa ini sangat menarik dicermati. Seluruh gempa berpusat di Zona Subduksi.

Memang ada variasi kedalaman hiposenternya, dalam hal ini ada pusat gempa yang sangat dangkal bersumber di zona subduksi muka (front subductioan) tetapi ada juga yang berada di kedalaman menengah di zona transisi antara zona Megathrust dan Benioff. .

"Fenomena rentetan gempa yang terus terjadi ini memancing perhatian masyarakat dan awak media yang terus menanyakan ke BMKG, fenomena apakah ini, mengapa aktivitas gempa di zona subduksi akhir-akhir ini sangat aktif. Sebagian dari mereka malah lebih kritis dengan menanyakan apakah rentetan gempa ini merupakan aktivitas gempa pendahuluan (foreshocks)?," tulis BMKG dalam akun instagram resminya.



BACA JUGA : Akibat Seks Bebas, Tiap Bulan Wanita Indonesia Jadi Korban Kejahatan seksual Modus gambar

 

Disebutkan tentu saja sangat sulit untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Namun demikian, hasil monitoring BMKG memang menunjukkan adanya klaster yang mencolok terkait adanya peningkatan aktivitas seismik, yaitu: (1) zona selatan Bali dan Banyuwangi, (2) Zona Cilacap dan Pangandaran, dan (3) Selat Sunda. BMKG akan terus memonitor aktivitas seismik yang terjadi khususnya di 3 zona duga aktif tersebut dan hasilnya akan segera diinformasikan kepada masyarakat.

BMKG menyebutkan jika diamati dalam sejarah gempa di dunia, gempa besar memang dapat diamati gempa pendahuluannya.

Fakta ini bisa kita lihat dari gempa Aceh 2004, Tohuku 2011, Chilli 2014,  Semua gempa besar ini didahului oleh gempa pendahuluan.

R1/Hee 





Loading...