Rabu, 16 Oktober 2019

INTERNASIONAL

Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur Diselimuti Kabut Asap, BMKG Bantah Kiriman Indonesia

news24xx


Seseorang menggunakan masker lewat depan Menara Kembar Patronase Diselimuti kabut asap tebal, Selasa.  Seseorang menggunakan masker lewat depan Menara Kembar Patronase Diselimuti kabut asap tebal, Selasa.

RIAU1.COM - Menara Kembar Patronase di Kuala Lumpur,  diselimuti  kabut asap. 

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membantah asap yang menyelimuti wilayah Sarawak, Malaysia, berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Asap yang muncul di wilayah tersebut diduga berasal dari local hotspot.



BACA JUGA : Ada Yang Lebih Ramah Lingkungan, Sedotan Di Italia Ini Terbuat Dari Pasta

Iklan Riau1
 

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, dari pengamatan Citra Satelit Himawari pada 4-5 September 2019, teridentifikasi adanya peningkatan jumlah titik panas secara mencolok di beberapa wilayah Asean, terutama di Semenanjung Malaysia dan sebagian Vietnam.

Berbanding terbalik di wilayah Riau, daerah dekat Malaysia. Pada tanggal tersebut, seluruh wilayah Riau bersih karena curah hujan 23 mm dalam sehari. Arah angin pun pada saat itu dari Tenggara mengarah ke Barat Laut dengan kecepatan 5-10 knots.

“Asap di Sumatra tidak terdeteksi lintasi Selat Malaka karena terhalang angin kencang dan dominan di Selat Malaka,” ujar Dwikorita saat menggelar jumpa pers di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa (10/9/2019).

Lonjakan jumlah hotspot terlihat hampir merata di wilayah Semenanjung Malaysia pada 7 September 2019 sebanyak 1423 titik, dari sebelumnya 1038 titik pada 6 September 2019. Sementara itu, di Riau dan perbatasan Sumatra bagian timur, terjadi penurunan jumlah hotspot, yakni dari 869 titik pada 6 September 2019 menjadi 544 titik pada 7 September 2019.

“Pada 5 September Indonesia diduga kirimkan asap dari Sumatra ke Malaysia. Dari satelit Himawari terlihat di Riau mulai muncul hotspot sedikit, tapi di Semenanjung Malaysia hotspot rapat di pantai, meluas hotspot-nya,” beber Dwikorita.

Soal apakah asap kiriman dari Kalimantan Barat, dia menjelaskan, berdasarkan analisis dari Citra Satelit Himawari dan Geohotspot BMKG, terdeteksi terjadi lonjakan titik panas di Serawak dan Kalimantan Barat pada 4 September 2019.

Terpantau penurunan titik panas pada 8 September 2019 di Serawak namun meningkat kembali pada 9 September 2019. Pada waktu yang sama, di Kalimantan Barat, titik panas terlihat turun.

“Bukan berarti yang di Serawak kiriman dari Kalbar. Karena di Serawak hotspot-nya juga banyak,” tegasnya.

Plt. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, Raffles B. Panjaitan malah menyebut hotspot terpantau langsung oleh timnya di Sarawak, yang berbatasan langsung dengan Indonesia, sejak Agustus lalu. Hanya saja dia enggan mengeksposnya ke publik karena fokus menangani Karhutla di wilayah Indonesia.

“Local hotspot di Sarawak sejak Agustus sudah ada. Tanggal 16-17 Agustus. Cuma, kan, kita nggak mau ngurusi orang,” singgungnya.

R1/ Hee 





Loading...
DN05 | Desktop - Read Right Side 300px