Selasa, 22 Oktober 2019

BISNIS

Perum Bulog Harus Berutang untuk Pengadaan Sejumlah Komoditas

news24xx


Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso. Foto: Tempo.co.  Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso. Foto: Tempo.co. 

RIAU1.COM -Perum Bulog memiliki utang hingga Rp28 triliun. Besarnya pinjaman itu adalah catatan utang hingga September 2019.

Dilansir dari Tempo.co, Jumat (20/9/2019), Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan, utang tersebut adalah untuk pengadaan sejumlah komoditas termasuk beras.

"Kalau tidak bisa disalurkan, ini kan bebannya ada di Bulog. Dana yang dipakai untuk Bulog itu pinjaman, komersial. Sedangkan ini yang kita simpan adalah pangan, ada batas waktunya," kata dia.

Selain itu, realisasi penyerapan beras petani hingga akhir tahun ini tidak mencapai target penugasan sebesar 1,8 juta ton. Dari target 1,8 juta ton, Bulog baru melakukan realisasi penyerapan beras sekitar 1,1 juta ton. Hingga akhir tahun, kemampuan Bulog untuk menambah stok hanya sekitar 200.000-300.000 ton atau hanya sebesar 1,3 juta sampai 1,4 juta ton.



BACA JUGA : Keren! Keripik Singkong Asal Bojonegoro Diekspor Ke Kuwait

Iklan Riau1

"Tidak dapat (terealisasi). Karena musim panennya sudah lewat, kenapa lewat ya bukan kesalahan siapa-siapa. Pada saat itu Bulog tidak bisa maksimal menyerap karena tidak ada jaminan bahwa Bulog bisa menyalurkan," kata Buwas di sela kegiatan peluncuran Beras Fortifikasi di Kantor Perum Bulog Jakarta, Jumat, 20 September 2019.

Ia mengakui bahwa Bulog tidak bisa maksimal melakukan penyerapan beras ketika musim panen. Hal itu karena BUMN sektor pangan tersebut tidak mendapatkan kepastian atau jaminan penyaluran beras.

Dalam menyerap beras petani, tentunya Bulog membutuhkan dana pinjaman untuk biaya penyimpanan. Di sisi lain, kualitas beras setiap minggu mengalami penurunan.



BACA JUGA : Fun Baking Bersama Zeelandia, DCC Pekanbaru Launching Buku Resep Cake and Snack Favorit

Hingga September 2019, Perum Bulog masih memiliki utang atau pinjaman yang diselesaikan sebesar Rp 28 triliun untuk pengadaan sejumlah komoditas, termasuk beras.

"Kalau tidak bisa disalurkan, ini kan bebannya ada di Bulog. Dana yang dipakai untuk Bulog itu pinjaman, komersial. Sedangkan ini yang kita simpan adalah pangan, ada batas waktunya," kata Budi Waseso.

Budi Waseso menambahkan saat ini Bulog memiliki stok 2,5 juta ton setara beras, terdiri dari penyaluran harian berkisar 4.000 ton per hari, khusus untuk Operasi Pasar (OP).

Meski target serapan beras tidak mencapai target, Budi Waseso memastikan stok yang ada saat ini masih aman untuk mencukupi di tengah kondisi kemarau, setidaknya sampai akhir tahun. Sesuai penugasan, stok beras yang harus tersedia pada akhir tahun sebesar 1,5 juta ton, atau melebihi stok Bulog saat ini.





Loading...