Jumat, 24 Mei 2019

TOP

Dari Pesan Terakhir Wan Thamrin Hasyim Sebagai Gubri Hingga Makna Tepuk Tepung Tawar Bagi Wagubri Edy Natar

news24xx


Prosesi tepuk tepung tawar Gubernur Riau, Syamsuar bersama Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution (foto: barkah/riau1.com) Prosesi tepuk tepung tawar Gubernur Riau, Syamsuar bersama Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution (foto: barkah/riau1.com)

RIAU1.COM - Tepat tanggal 20 Februari 2019 lalu, Provinsi Riau resmi dipimpin oleh Syamsuar dan Edy Afrizal Natar Nasution setelah dilantik di Istana Merdeka sebagai Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau untuk masa bakti 2019 hingga 2024 mendatang.

Mantan Bupati Siak bersama Jenderal bintang satu itu pun menjadi harapan baru masyarakat di Bumi Lancang Kuning untuk membawa Riau menjadi lebih gemilang kedepannya.

Dihari terakhir kepemimpinannya sebagai Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim berpesan kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau untuk tetap disiplin.

Berikut Riau1.com akan merangkum kabar Riau sepekan, mulai dari pesan terakhir Wan Thamrin Hasyim sebagai Gubernur Riau, penetapan status siaga karlahut di Riau hingga makna prosesi adat tepuk tepung tawar bagi Wakil Gubernur Riau, Edy Afrizal Natar Nasution.

1. Pesan Wan Thamrin Hasyim saat Apel Terakhir Sebagai Gubernur Riau

Wan Thamrin Hasyim memimpin apel terakhir sebagai Gubernur Riau, Senin 18 Februari 2019 yang diikuti oleh seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.

Tidak banyak yang bisa disampaikan dalam apel terakhirnya itu, Wan Thamrin Hasyim berpesan kepada para ASN untuk bisa bekerja dengan baik dan penuh tanggungjawab di masa kepemimpinan Gubri yang baru nanti.

"ASN itu bagian dari pemerintah, gubernur tidak akan bisa kerja sendiri tanpa ASN. Makanya saya minta kalian untuk bekerja dengan baik, siapa pun pemimpinnya," kata Wan Thamrin Hasyim.

Pada kesempatan itu pula, Wan Thamrin menyampaikan maaf kepada seluruh ASN dilingkungan Pemprov Riau yang selama ini telah membantunya sejak menjabat sebagai Gubri pada bulan Mei 2017 silam.

2. Wan Thamrin Hasyim Tinggalkan Rumah Dinas Gubernur Riau

Wan Thamrin Hasyim mulai berkemas-kemas dari rumah dinas, tepat hari Selasa, 19 Februari 2019 esok masa jabatannya sebagai Gubernur Riau berakhir dan akan segera digantikan oleh Gubri terpilih Syamsuar.

Selama 20 bulan menjabat sebagai Gubernur Riau menggantikan Arsyadjuliandi Rachman yang mengundurkan diri karena mengikuti Pileg 2019, Wan Thamrin Hasyim tinggal di rumah dinas Gubri, Jalan Diponegoro, Pekanbaru.



BACA JUGA : Mulai dari KONI Akan Buat Acara Dragon Boat Race di Sungai Siak Hingga Kayu Berpaku dan Batu Berserakan di Sekitar Jembatan Siak IV Pekanbaru

"Saya sudah kemas-kemas barang dan akan pindah ke rumah saya di Tangkerang," ucap Wan Thamrin, usai apel terakhir sebagai orang nomor satu di Riau di halaman Kantor Gubernur Riau, Senin 18 Februari 2019.

Wan mengungkapkan, ada banyak barang pribadinya yang akan dibawa dari rumah dinas tersebut dan hari ini mulai diangsur untuk dipindahkan ke rumahnya. "Tepat pukul 00.00 WIB nanti, saya sudah habis masa jabatan dan harus tinggalkan rumah itu. Insya Allah sudah siap angsur barang," ungkapnya.

3. Gubri Tetapkan Siaga Karlahut Hingga 31 Oktober 2019

Menyusul tiga kabupaten di Riau yang telah menetapkan status siaga kebakaran lahan dan hutan (karlahut), yakni Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Bengkalis dan Kota Dumai yang telah menetapkan status siaga.

Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim akhirnya menetapkan status siaga karlahut untuk Provinsi Riau, terhitung mulai tanggal 19 Februari sampai dengan 31 Oktober 2019 mendatang, dalam rapat yang digelar Selasa 19 Februari 2019 di Kantor Gubernur Riau.

"Total ada seluas 842,71 ha lahan dan hutan di Riau yang terbakar tahun 2019 ini, kita minta kepada para kalaksa, kepala daerah dan pemilik perusahaan untuk menjaga daerahnya masing-masing," kata Wan Thamrin Hasyim saat memimpin rapat penetapan status siaga karlahut.

Wan Thamrin menuturkan, jika kasus karlahut dibiarkan, akan berdampak secara global ke masyarakat, mulai dari dampak kesehatan, karena masyarakat terserang penyakit ISPA.

"Juga dampak pendidikan, sekolah terpaksa harus tutup karena kabut asap. Serta dampak ekonomi, seperti yang terjadi pada tahun 2015 silam," tuturnya.

4. Alasan Gubri Tetapkan Status Siaga Karlahut di Riau Sampai Akhir Oktober 2019

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau telah menetapkan status siaga kebakaran lahan dan hutan (karlahut) mulai tanggal 19 Februari sampai dengan 31 Oktober 2019 mendatang. Banyak hal yang menjadi alasan penetapan status tersebut.

Salah satunya yang menjadi alasan Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim menetapkan status siaga karlahut di Riau, setelah mendengar laporan dari BMKG, terkait musim kemarau panjang yang akan terjadi di Riau.

"Tadi kita dengar penjelasan dari BMKG, musim kemarau akan terjadi lima sampai enam bulan kedepan," kata Wan Thamrin usai menggelar rapat penetapan status siaga karlahut di Kantor Gubernur Riau, Selasa 19 Februari 2019.

"Ditambah lagi, dari prediksi BMKG, sepanjang tahun 2019 ini tidak ada hujan lebat di Riau, hanya hujan dengan intensitas ringan. Jadi, kita perlu siaga dari sekarang agar kasus karlahut bisa diatasi sejak awal," tambahnya.



BACA JUGA : Mulai dari Overlay Tiga Ruas Jalan Hingga Warga Pekanbaru Lebih Memilih Prabowo-Sandiaga Uno di Pemilu 2019

5. Harapan LAM Riau untuk Gubri dan Wagubri Syamsuar-Edy Natar

Resmi dilantik sebagai Gubernur Riau, Syamsuar menjadi kebanggaan dan besar harapan masyarakat melayu kepada anak jati melayu tersebut.

Hal itu dikatakan Ketua DPH LAMR, Syahril Abu Bakar dalam sambutannya saat acara prosesi adat tepuk tepung tawar Gubernur Riau, Syamsuar dan Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution.

"Kini Riau punya pemimpin baru, setelah lima tahun terakhir dipimpin oleh tiga kepala daerah, Datuk Anas Maamun dan Arsyadjuliandi Rachman yang kemudian disempurnakan oleh Datuk Wan Thamrin Hasyim," ucapnya.

"Harapan besar masyarakat melayu kepada Syamsuar dan Edy Natar yang akan melanjutkan kepemimpinan untuk membawa Riau lebih gemilang," kata Syahril.

Syahril melanjutkan, dengan kepemimpinan Syamsuar dan Edy Natar, bisa terwujud pengelolaan blok Rokan oleh masyarakat Riau dan pengembalian tanah ulayat, serta penataan kembali perkebunan kelapa sawit di Riau.

"Kita yakin, kepemimpinan Syamsuar dan Edy Natar bisa lebih memperhatikan dan mewujudkan perda-perda syariah untuk kemajuan masyarakat Riau," tukasnya.

6. Makna Tepuk Tepung Tawar Bagi Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution

Menjalani prosesi adat tepuk tepung tawar, Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution memaknainya sebagai bentuk peringatan untuk bisa melaksanakan tugas memimpin Riau lima tahun kedepan dengan penuh tanggungjawab.

"Saya memaknainya lebih ke suatu peringatan kepada kami sebagai pemimpin untuk melaksanakan tugas dengan serius dan penuh tanggungjawab," kata Edy Natar dalam sambutannya usai prosesi tepuk tepung tawar, Kamis 21 Februari 2019.

Edy Natar melanjutkan, tugas ini tidak bisa hanya dilaksanakan seorang diri saja, tapi harus ada kekompakan dan solid. Karena masyarakat Riau tidak hanya memilih Syamsuar saja atau Edy Natar saja.

"Yang dipilih masyarakat Riau adalah Syamsuar dan Edy Natar. Jadi harus solid, dan saya sepenuhnya akan mendukung semua program Syamsuar untuk kemajuan masyarakat Riau," tuturnya.