Selasa, 20 Agustus 2019

POLITIK

Viral Video Mbah Moen Doakan Prabowo di Samping Jokowi, Ini Penjelasan PPP

news24xx


Mbah Moen dan Jokowi/detikcom. Mbah Moen dan Jokowi/detikcom.

RIAU1.COM - Media sosial diramaikan dengan video Kiai Maimun Zubair atau Mbah Moen mendoakan Prabowo menjadi presiden. Padahal di kesempatan yang sama ada capres Joko Widodo (Jokowi) di sampingnya. 

 

Waketum PPP yang berada di lokasi menjelaskan, jika dilihat secara utuh Mbah Moen mendoakan Presiden Jokowi untuk menjadi presiden kedua kalinya. 

 



BACA JUGA : PKS Langsung Pecat Kader Yang Terbukti Korupsi

 

"Saat ini beredar di publik dua video Mbah Moen berdoa. Dua video tersebut harus dilihat secara utuh, tidak bisa dibaca hanya satu video saja. Di video pertama yang diframing sebagai doa untuk Pak Prabowo semestinya dilihat secara utuh," kata Arwani saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (2/2/2019). 

 

"Beliau menyebut jelas 'hadza rois (presiden ini) dan mendoakan untuk menjadi presiden kedua kalinya (marrah tsaniyah)'. Jelas di sini, siapa yang dimaksud menjadi presiden kedua kalinya, tentu merujuk Pak Jokowi. Beliau saat ini menjadi presiden di periode pertama. Kecuali doanya 'menjadi capres kedua kali', itu tentu ditujukan ke Pak Prabowo," jelasnya. 

 



BACA JUGA : Dilaporkan ke Polisi, Ustadz Abdul Somad: Itu Pengajian 3 Tahun Lalu, Kenapa Diusik Sekarang

 

Arwani menyatakan jangan sampai pemotongan video Mbah Moen tersebut menimbulkan kegaduhan politik. 

 

"Video kedua, Mbah Moen menegaskan doanya ditujukan untuk Pak Jokowi. '...Hadza Pak Prabowo La Pak Prabowo Innama Pak Jokowi, Joko Widodo'," tutur Arwani. 

 

"Ini juga menjadi jelas, bahwa doa yang tadi itu yang isinya mendoakan agar jadi presiden kedua kali itu untuk Jokowi bahkan ditegaskan dua kali dengan menyebut Jokowi dan Joko Widodo," imbuhnya. 

 

Menurut Arwani, kebiasaan mencomot video tak utuh harus dihentikan karena tidak sesuai dengan tata krama politik. 

 

"Kebiasaan mencomot dan memframing video sesuai kehendak dan selera politik tentu keluar dari etika. Sebaiknya, kebiasaan tersebut dihentikan karena jauh dari tata krama berpolitik yang sejuk," jelasnya.