Sabtu, 17 November 2018

OPINI

Melihat Seberapa Kuat Rekomendasi Alumni Presidium 212 Pengaruhi Hasil Pilpres 2019

news24xx


Ilustrasi Menuju Pilpres 2019.  Ilustrasi Menuju Pilpres 2019.

Riau1.com - Oleh : Toas Rahman

Alumni Presidium 212 sudah mengeluarkan siaran pers dan rekomendasinya soal sosok Capres 2019 yang diusung Parpol koalisi umat yang diharapkan dibahas dalam ijtimak ulama dan tokoh nasional yang sedang berlangsung di Jakarta,  mereka merekomendasikan beberapa nama  Cawapres yaitu Prabowo Subianto,  Gatot Nurmantyo,  Anies Baswedan dan Yusril Ihza Mahendra. 

Pertanyaannya adalah bagaimana dengan nama sejumlah tokoh lainnya yang juga berambisi sebagai Capres seperti Amien Rais atau tokoh dari PKS? Cukupkah mereka "dijatah" hanya Cawapres?  Bagaimana dengan dampak "political spat" antara SBY vs Megawati Soekarnoputri tidak ditampung oleh koalisi umat,  karena sudah hampir pasti Partai Demokrat tidak mau berkoalisi dengan kubu Joko Widodo?  Berpengaruh dan berpeluangkah nama nama diatas? 

Yang pasti elektabilitas Joko Widodo jauh unggul dibandingkan Prabowo Subianto,  Yusril Ihza Mahendra,  Anies Baswedan ataupun Gatot Nurmantyo.  Prestasi kerja Joko Widodo memimpin saat ini juga tampaknya jauh mentereng dengan nama keempat "political warrior" tersebut ketika menjabat. Bahkan menurut penulis jika Ahok tidak tersandung "blasphemy case" sosok Anies Baswedan juga tidak bakalan menang di Pilkada DKI Jakarta yang lalu.  

Mengaca kepada mesin politik bekerja,  maka Parpol yang mendukung terpilih kembalinya Jokowi sebagai Presiden juga lebih unggul jika mengaca ke hasil Pilkada 2018. Partai Nasdem,  Partai Golkar,  PKB,  PPP bahkan Partai Hanura yang sempat tertimpa dualisme kepemimpinan cukup jitu memilih aliansi politik sehingga banyak menang di Pilkada 2018. Melihat hasil Pilkada 2018 ini wajar jika kemudian Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartanto dan Romahurmuziy sama sama ngotot "dilamar" Jokowi sebagai Cawapresnya,  bahkan banyak yang menduga duga PKB, Partai Golkar, atau PPP tidak akan serius dukung Jokowi jika "political icon" mereka gagal menjadi Cawapres,  walau Parpolnya tidak keluar dari koalisi mendukung Jokowi.  Jika skenario ini terjadi,  maka Pilpres 2019 akan sengit,  namun jika tidak terjadi maka Jokowi akan mudah melenggang ke Istana lagi. 

Sementara "dikubu sebelah" persoalan rumit juga belum ditemukan solusinya.  Posisi Capres dan Cawapres belum tuntas.  Jika PAN dan Partai Demokrat masuk dalam koalisi umat,  maka kinerja PAN dan PD yang cukup bersinar di Pilkada 2018 juga patut mendapat jatah politik yang signifikan,  sebab jika tidak ada kemungkinan muncul poros ketiga dari kelompok "desperate political party" dari kedua koalisi yang tetap berpotensi menjadi "splinter".

Oleh karena itu,  banyak yang menduga strategi politik biner dan fenomena botmageddon di Medsos akan mewarnai Pilpres 2019 dengan berbagai bigotry,  hate speech dan lainnya. Jokowi setidaknya akan diserang soal isu divestasi Freeport,  utang luar negeri dan rupiah yang gampang loyo,  Jokowi jauh dari umat Islam,  isu PKI,  dan isu TKA dari Cina.  Sedangkan Prabowo Subianto dan Gatot Nurmantyo akan diserang isu selama berkarir di militer,  Yusril Ihza Mahendra mungkin akan diterpa kebangkitan Islam militan seperti Masyumi dan banyaknya eks HTI menjadi Bacaleg Partai Bulan Bintang dan Anies diprediksi akan diserbu kritikan pedas atas kinerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta sekarang ini. Bahkan,  sosok Capres dan Cawapres yang bakal maju akan "dibahas" sisi kehidupan pribadinya. 

Situasi semakin kompleks mendekati hari H Pilpres,  karena media massa dan lembaga survei sudah pasti tidak akan netral mengaca kepada Pilpres 2014. Saat ini saja diduga beberapa media massa dan lembaga survei sudah tidak netral. 

Apapun ceritanya,  skenarionya dan hasil akhirnya,  kita sebagai masyarakat awam ingin pasca Pilpres 2019, situasi tetap akan aman dan terhindar dari disintegrasi bangsa.  Semoga. 

Penulis adalah pemerhati politik.  Tinggal di Jakarta.

R1/Hee