Rabu, 18 September 2019

NASIONAL

Garuda Indonesia Operasikan Pesawat Kargo Tanpa Awak untuk Dorong Ekspor di Indonesia Timur

news24xx


Logo Garuda Indonesia. Logo Garuda Indonesia.

RIAU1.COM -PT Garuda Indonesia Persero akan mengoperasikan pesawat kargo tanpa awak atau unmanned aerial vehicle alias UAV secara komersial pada 2020.

Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal mengatakan, pesawat nirawak ini difokuskan untuk mendorong potensi pasar dan menunjang angkutan ekspor ikan dari Indonesia bagian timur, seperti Maluku, Sulawesi, serta Papua.

"Kami fokus ke Indonesia Timur dulu untuk bawa ikan. Ikan diangkut dari Dobo, Somlaki, ke Ambon. Dari Ambon, baru diangkut pakai frater (untuk ekspor)," kata Iqbal dikutip dari Tempo.co, Jumat (21/6/ 2019.



BACA JUGA : Riau Berselimut Asap, Pihak Istana Negara: Jalani Dengan Ikhlas dan Berdoa

Iklan Riau1

Dengan pengadaan pesawat kargo, Garuda Indonesia memiliki target mempercepat ritase pengiriman barang. Bila angkutan tersebut beroperasi, barang-barang komoditas di luar Pulau Jawa bisa dikirim dari satu titik ke titik lain dalam waktu kurang dari 24 jam.

Adapun pesawat yang bakal diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia ini rencananya diujicobakan pada kuartal IV 2019, yakni rentang September hingga Desember. Sedangkan pengoperasiannya bakal dimulai pada awal 2020.

Iqbal mengatakan, hingga 2024, perseroan memproyeksikan memiliki 100 armada UAV hasil kerja sama dengan Beihang UAS Technology Co. Ltd. Dalam kerja sama ini, Garuda tidak menanam investasi, melainkan menggunakan skema sewa.



BACA JUGA : Tim Bantuan Ditolak, BPBD DKI Jakarta akan Koordinasi dengan Pemprov Riau

Berdasarkan desainnya, armada kargo tanpa awak itu akan memiliki kapasitas angkut beragam, yakni mulai 2,2 ton hingga 5 ton. Pada awal mula pengoperasian, perusahaan dengan emiten berkode GIAA ini akan lebih dulu menjajal pesawat dengan kapasitas angkut paling kecil.

Iqbal meyakini, angkutan kargo dapat menjangkau daerah-daerah remote atau perbatasan lantaran desainnya kecil dan fleksibel. Pesawat ini digadang-gadang mampu mendarat di landasan pendek dan terbang di ketinggian rendah 5.000 kaki.

Saat ini, Garuda Indonesia masih menunggu regulasi pengoperasian UAV dari Kementerian Perhubungan. Selain itu, perseroan juga terus berkoordinasi dengan Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau AirNav untuk memastikan pengaturan lalu-lintas udara berjalan lancar.





Loading...
DN06 | space iklan baca