Selasa, 25 Juni 2019

NASIONAL

Pebisnis Online Merugi Akibat Medsos dan WhatsApp Dibatasi, Menkominfo Minta Maaf

news24xx


Menkominfo RI, Rudiantara Menkominfo RI, Rudiantara

RIAU1.COM - Pasca penerapan pembatasan akses media sosial (medsos) dan perpesanan instan oleh pemerintah sejak Rabu 22 Mei 2019 karena aksi unjuk rasa terkait dugaan kecurangan Pemilu serentak 2019, ternyata berdampak negatif bagi para pebisnis online.

Banyak para pebisnis yang memanfaatkan serta bergantung pada medsos dan whatsapp merugi karena pembatasan akses ini. Kemenkominfo RI pun meminta maaf kepada para pihak yang terdampak kebijakan pembatasan sementara.



BACA JUGA : Giliran Makassar, Driver Ojol Pindah ke Gojek

"Saya minta maaf kepada teman-teman yang sementara tidak bisa gunakan fitur gambar," kata Menteri Kominfo RI, Rudiantara di Gedung Menkopolhukam, Jakarta Pusat, dilansir Republika.co.id, Jumat 24 Mei 2019.

"Terutama (mereka yang) jualan online yang memanfaatkan fitur gambar di media sosial (namun harus) terkena dampaknya," sambungnya.

Rudiantara pun mengaku prihatin atas dampak ekonomi dari kebijakan pembatasan fitur foto dan video tersebut. Ia berdalih yang dilakukannya adalah demi persatuan dan kesatuan NKRI. "Saya turut prihatin, namun yang kami jaga itu eksistensi dari NKRI ini," sebutnya.



BACA JUGA : Driver Ojek Online Indonesia Apresiasi GoJek, Usai Selamatkan Mitra yang Kejang-kejang saat Antar Penumpang

Seperti yang diketahui, akibat pembatasan akses, tren penggunaan Medsos untuk berbisnis secara online pun turut terimbas. Salah satunya seperti yang dirasakan Novi, pebisnis online shop di Kota Pekanbaru, Riau. Ia mengakui, ada penurunan omzet pascakebijakan diberlakukan.

Novi mengaku merugi hingga Rp5 juta, lantaran akses media sosial (medsos) miliknya tak bisa digunakan secara maksimal. Sementara ia mengaku bergantung dengan kehadiran Medsos, untuk mempromosikan jualannya, seperti memanfaatkan Facebook, Instagram hingga Twitter.

Kondisi itu kian pelik, setelah aplikasi chatting WhatsApp juga turut masuk dalam pembatasan oleh pemerintah. Novi yang biasanya berjualan online berupa tas, aneka kue-kue, handphone sampai aksesori, harus gigit jari.