Kamis, 13 Desember 2018

MERANTI

Suara Berisik Ruko Burung Walet Ganggu Proses Belajar di SMP 5 Selatpanjang

news24xx


Poniman dan Berty Asmara dengan latar belakang ruko sarang burung walet di Selatpanjang.  Poniman dan Berty Asmara dengan latar belakang ruko sarang burung walet di Selatpanjang.

RIAU1.COM - ‎Suara berisik dari ruko ruko sarang burung walet sudah lama mengganggu proses belajar siswa di 
Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 5 Tebingtinggi yang berada di Jalan Ibra‎him, Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Di sekeliling sekolah tersebut berjejer ruko sarang burung walet.

Sarang burung walet tersebut mengeluarkan bunyi yang berisik. Bukan bunyi dari burung walet, tetapi rekaman kaset yang dibunyikan menggunakan audio untuk memancing burung walet agar hinggap dan bersarang di sana.

"Bukan satu atau dua sarang walet saja yang mengeluarkan bunyi berisik di dekat SMP tersebut. Tetapi jumlahnya mencapai belasan unit," kata Wakil Kepala Sekolah  SMP 5, Drs Poniman didampingi salah seorang gurunya, Berty Asmara, Jumat 14 September 2018. 

Dia mengaku keberadaan sarang burung walet tersebut pertama kali sekitar tahun 2004 lalu. Sementara SMPN 5 Tebingtinggi sudah ada sejak tahun 2002 lalu.

"Saat pertama kali sekolah ini beroperasi pada tahun 2002 kami merasa tenang menjalankan aktivitas belajar mengajar sekolah. Tapi pada tahun 2004 dan 2005 pembangunan sarang burung walet ini marak dilakukan oleh warga," katanya yang saat pertama sekolah dibangun sudah mengajar di sana.

Didatangi pada Jumat 14 September 2018 memang bunyi berisik sangat mengganggu sekolah tersebut. Bahkan agar bisa didengar, kita harus berbicara agak lebih keras.

Dari pantauan jarak bangunan sarang burung walet ke sekolah hanya lebih kurang 20 meter saja, bahkan ada yang hanya lebih kurang 8 meter atau hanya dipisah gang kecil saja.

"Ini sangat mengganggu konsentasi belajar siswa. Bahkan saat ujian nasional sekalipun bunyi berisik dari sarang burung walet tetap ada seperti biasa," ungkapnya.

Diakuinya beberapa tahun lalu, pihak sekolah sudah pernah melaporkan ketidak nyamanan itu kepada pihak kelurahan. Tetapi hingga kini tak pernah ada hasilnya."Kalau ke Dinas juga sudah kita sampaikan secara lisan," ujar dia.

Yang diharapkannya bukan menutup usaha sarang burung walet tersebut, tetapi bagaimana bunyi kaset yang untuk pemanggil burung walet tidak dihidupkan saat jam sekolah. Dengan begitu siswa bisa menerima pelajaran yang disampaikan guru. Sebaliknya apa yang dijelaskan guru bisa diterima dengan baik.

"Padahal pagi hari burung walet juga tidak ada dan keluar untuk mencari makan. Dan baru pulang pada sore hari. Jadi kalau dimatikan saat jam belajar siswa di sekolah tidak akan ‎mengganggu usaha sarang burung walet ini," tambah Poniman. 

Meski begitu, hingga kini belum terlihat Kasat Pol PP Meranti dan Dinas Perizinan melakukan penertiban agar bunyi sarang burung walet tidak mengganggu proses belajar di sekolah. 

R1/Hee /mad