Minggu, 22 September 2019

INTERNASIONAL

Temperatur Tinggi pada Juli 2019 Tanda Bumi Makin Panas

news24xx


Ilustrasi gelombang panas, Australia. Foto: Reuters. Ilustrasi gelombang panas, Australia. Foto: Reuters.

RIAU1.COM -Juli 2019 mungkin menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. Ini berdasarkan data penelitian awal Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization shows/WMO).

Data itu diungkap oleh Sekretaris Jenderal PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) Antonio Guterres. Dilansir dari Kumparan.com, rata-rata temperatur global dari 1 sampai 29 Juli 2019 melewati rekor sebelumnya, yaitu Juli 2016 lalu.

"Ini menjadi signifikan, sebab bulan terpanas sebelumnya, Juli 2016, terjadi saat sedang ada El Nino terbesar yang pernah ada," ujar Guterres, seperti dilansir Live Science.

Juli 2016 lalu terjadi El Nino yang membawa air hangat Samudra Pasifik ke Amerika Selatan. Guterres mengatakan, kondisi ini mempengaruhi pola cuaca di seluruh dunia.



BACA JUGA : Aktivis Demokrasi Desak Kongres Amerika Serikat Dikte Pemerintah Cina Soal Hong Kong

Iklan Riau1

Sedangkan temperatur tinggi pada Juli 2019, kata Guterres, tidak dibarengi El Nino. Panas kala itu murni karena perubahan iklim.

Live Science melansir, Juli 2019 diwarnai dengan banyak kejadian gelombang panas. Pada 25 Juli 2019, beberapa negara Eropa, seperti Belgia, Jerman, dan Belanda, memecahkan rekor temperatur terpanasnya.

Bahkan, kota Paris juga mencatatkan hari terpanasnya pada 25 Juli 2019. Kala itu, temperaturnya mencapai 42,6 derajat Celcius.



BACA JUGA : Kabut Asap Landa Malaysia, Mahathir Akan Kirim Surat ke Jokowi

Juli terpanas dalam sejarah ini didahului oleh bulan Juni terpanas yang pernah Bumi rasakan. Guterres mengatakan, bahwa ini membuat tahun 2019 bisa masuk dalam daftar lima tahun terpanas dalam sejarah. Periode dari 2015 ke 2019 bisa masuk ke dalam lima tahun terpanas yang pernah tercatat.

"Jika sekarang kita tidak melakukan sesuatu untuk mengatasi perubahan iklim, maka cuaca ekstrem ini akan menjadi awalan dari kejadian lainnya," ucap Guterres.

Menurut laporan di jurnal Nature Climate Change, frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem dan gelombang panas berbahaya akan terus meningkat. Fenomena ini membuat negara-negara maju di dunia mulai mengambil langkah signifikan untuk menurunkan emisi gas rumah kacanya.





Loading...