Minggu, 18 Agustus 2019

BISNIS

Harga Batu Bara Menguat, Minyak Mentah Dunia Melemah

news24xx


Ilustrasi Salah satu aktivitas tambang batu bara di Dharmasraya, Sumatera Barat.  Ilustrasi Salah satu aktivitas tambang batu bara di Dharmasraya, Sumatera Barat.

RIAU1.COM - Ini kabar gembira untuk eksprtir batu bara. 

Pasalnya, Harga batu bara di bursa Newcastle berhasil bangkit dari pelemahannya bahkan berakhir menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (17/7/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Agustus 2019 ditutup menanjak 1,35 persen atau 1 poin di level US$75,20 per metrik ton dari level penutupan perdagangan sebelumnya.



BACA JUGA : Melalui #Bedabisabersama, Smartfren, FX Sudirman dan Senimart Ajak Millenials Toleransi Perbedaan

 

Pada perdagangan Selasa (16/7/2019), harga batu bara kontrak Agustus masih melemah 0,67 persen atau 0,50 poin dan berakhir di level 74,20, pelemahan hari keempat beruntun.

Seperti dilansir bisnis.com, Kamis, 18 Juli 2019, Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Oktober 2019 ikut rebound dan ditutup menguat 1,07 persen atau 0,65 poin di level 61,35 pada perdagangan Rabu (17/7).

Meski demikian, harga batu bara thermal untuk pengiriman September 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange, masih tertekan di zona merah dan berakhir melemah 0,45 persen atau 2,6 poin di level 579,8 yuan per metrik ton.

Dalam risetnya, Everbright Futures menerangkan bahwa konsumsi komoditas ini tetap relatif lemah dan dapat dipenuhi oleh perjanjian pasokan jangka panjang.

“Inventaris end user masih tinggi dan membatasi minat pembelian. Investor menunggu tanda-tanda peningkatan permintaan setelah musim hujan di China selatan, sambil mengawasi perubahan kebijakan terkait bea cukai,” paparnya, mengutip Bloomberg.

Sementara itu, harga minyak mentah terus melemah pada perdagangan Kamis (17/7) seiring dengan pelemahan konsumsi bensin dan solar yang menambah kekhawatiran investor atas permintaan minyak.

Harga Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 1,5 persen atau 0,84 poin di level US$56,78 per barel di New York Mercantile Exchange, level terendah dalam dua pekan terakhir.

Adapun minyak Brent untuk kontrak September meluncur 0,69 sen atau 1,07 persen ke level US$63,66 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Dilansir Bloomberg, minyak mentah melemah setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan peningkatan persediaan bensin dan solar sebesar 9,25 juta barel pekan lalu, jauh di atas perkiraan analis.

Persediaan minyak mentah memang turun lebih dari 3 juta barel, tetapi itu sebagian didorong oleh penghentian produksi sementara terkait Badai Barry.

Laporan EIA didominasi oleh tanda-tanda bearish untuk konsumsi bahan bakar. Cadangan solar, salah satu produk utama bahan bakar distilasi, membengkak ke level tertinggi tiga bulan.

Bensin yang dipasok ke pasar mencapai level terendah dalam lima tahun. Selain itu, ekspor minyak mentah juga turun setelah badai Barry mengganggu pengiriman laut.

“Peningkatan besar dalam pasokan bahan bakar sedikit mengkhawatirkan, terutama jika kita melihat ini berlanjut di laporan mendatang," ujar Brian Kessens, manajer portofolio dan direktur pelaksana di Tortoise.

Minyak mentah AS telah merayap di kisaran US$60 per barel sepanjang bulan ini di tengah ketegangan yang tengah berlangsung dengan Iran dan ancaman perang perdagangan yang berkelanjutan dengan China.



BACA JUGA : Menginap di Hotel Labersa Pekanbaru saat Hari Kemerdekaan RI, Gratis Nasi Kuluyuk untuk 2 Orang

 

Sementara itu, operator minyak berada sedang berupaya untuk memulai kembali operasional di Teluk setelah badai Barry mereda.

 “Peningkatan cadangan minyak menjadi peringatan. Angka-angka ini menunjukkan perlambatan ekonomi global sekarang sedang tercermin dalam permintaan yang lemah," kata Fernando Valle, seorang analis Bloomberg Intelligence di New York.

R1/Hee