Sabtu, 17 November 2018

ADVERTORIAL

Analis: BI Perlu Cari Cara Lain Untuk Intervensi Rupiah

news24xx


Ilustrasi Ilustrasi

Riau1.com -Nilai tukar Rupiah di pasar spot Indonesia menyentuh level tertinggi sejak krisis moneter dan ditutup di level Rp 14.711 per Dollar Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Kontan.co.id, di pasar spot Internasional, kurs Rupiah sempat mencapai Rp 14.840 per Dollar AS. Beruntung, intervensi yang dilakukan Bank Indonesia membuat Rupiah sedikit bertenaga. Di penutupan perdagangan kemarin, Rupiah hanya turun 0,20%.

 "Komitmen BI untuk menjaga Rupiah berhasil membuat pasar stabil dan akhirnya pelemahan tidak terlalu dalam," kata Chief Economist Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro.

Namun, Rupiah masih sensitif terhadap katalis eksternal. Itu karena tingkat kepemilikan asing di pasar keuangan dalam negeri yang cukup besar. Apalagi, masih ada sentimen rencana kenaikan suku bunga The Federal Reserve dua kali di sisa tahun ini.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menilai, intervensi dari BI kurang mujarab untuk jangka panjang. Tingkat suku bunga yang sekarang kurang mencerminkan kondisi ekonomi di dalam Negeri, jadi BI perlu mencari cara lain untuk mengintervensi Rupiah, ucap Lukman.

Para analis sependapat, tidak mustahil nilai tukar Rupiah bisa menembus level Rp 15.000 per Dollar AS di akhir tahun nanti. Kendati begitu, ini bukan berarti fundamental ekonomi Indonesia bermasalah. Ini mengingat pelemahan kurs tak hanya terjadi pada Rupiah saja. Pelaku pasar juga sebenarnya masih bisa menerima pelemahan kurs Rupiah.

Karena itu, Satria tetap optimistis nilai tukar Rupiah hanya akan turun ke Rp 14.900 per dollar AS pada akhir 2018. Mengingat, secara fundamental, ekonomi dalam Negeri masih ciamik.