Jumat, 23 Agustus 2019

ADVERTORIAL

Menuju Pelalawan Makmur, Pemkab Jadikan Kuala Kampar Lumbung Padi

news24xx


Nupati HM Harris saat melakukan-uj coba bantuan mesin panen dari Kementerian pertanian/ADV Nupati HM Harris saat melakukan-uj coba bantuan mesin panen dari Kementerian pertanian/ADV

RIAU1.COM -  PELALAWAN - Upaya untuk mempercepat pembangunan dan peningkatan untuk kesejahteraan masyarakat terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan, salah satu program yang dipacu diantaranya pada sektor pertanian.

Kesejahteraan bagi petani merupakan skala prioritas yang diperhatian, dimana Pemerintah Negeri Amanah itu memiliki komitmen dalam mengejar produktifitas hasil pertanian yang berada di sepanjang aliran sungai kampar ini.

Buktinya, melalui program Pelalawan Makmur, masyarakat yang berprofesi sebagai petani terus mendapatkan pembinaan dari Pemkab Pelalawan. Selain pembinaan, petani juga mendapat bantuan peralatan, bibit, memperluas lahan persawahan.

Seluruh bantuan yang ditujukan pada petani itu dilakukan Pemerintah itu demi suksesnya kemandirian pangan Kabupaten Pelalawan, karena sepanjang bantaran sungai kampar memiliki potensi pertanian khususnya padi atau beras.

Dalam meningkatkan hasil pertanian, tidak tanggung-tanggung bantuan yang diberikan pemerintah berupa peralatan mengolah sawah seperti hand traktor, alat tanam, alat panen, bantuan bibit unggul sampai melakukan pelatihan terhadap para petani.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Holtikultura, dari 8.902 Ha luas pertanian padi yang ada di Kabupaten Pelalawan, 7.380 Ha diantaranya berada di Kecamatan Kuala Kampar, Teluk Meranti 786 Ha, Kerumutan 224 Ha, Bunut 154 Ha, Bandar Petalangan 142 Ha, Pangkalan Kuras 85 Ha, Pangkalan Lesung 71 Ha dan Kecamatan Pelalawan 60 Ha.

Dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Pelalawan, 4 kecamatan diantaranya tidak memiliki lahan pertanian padi yakni kecamatan Pangkalan Kerinci, Ukui, Bandar Seikijang dan kecamatan Langgam. Serta dari luas lahan pertanian padi tersebut, 6.637 Ha merupakan sawah pasang surut dan sawah tadah hujan 1.005 Ha.

Bupati Pelalawan HM Harris didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Pelalawan Syahfalefi mengatakan, sejalan dengan kebijakan pembangunan di era Presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo dan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla yakni 9 agenda atau nawacita, maka setidaknya ada tiga prioritaa pembangunan Kabupaten Pelalawan.

Bilamana yang menunjang atau menjadi bagian implementasi nawacita yakni pembangunan kawasan tekno park, pembangunan destinasi wisata bono di Kecamatan Teluk Meranti dan pengembangan kawasan padi di Kecamatan Kuala Kampar.

Dikatakan HM Harris, berdasarkan letak geografis, membangun Pelalawan berarti membangun Indonesia dari pinggiran. Untuk pengembangan padi di Kabupaten Pelalawan khususnya di Kecamatan Kuala Kampar ini dengan skala agribisnis akan berdampak bagi peningkatan produktivitas  dan kesejahteran petani serta terwujudnya kedaulatan pangan sebagaimana menjadi target dari nawacita.

Lebih lanjut Harris menyebutkan, tidak dapat dipungkiri, sejak lama keberadaan Pulau Mendol dengan luas wilayahnya kurang lebih 30.000 Hektare merupakan lumbung padi bagi kawasan pesisir di Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Selama ini, pengolahan penanaman dilakukan dengan pola tradisional dan sebagian telah terjangkau oleh program dari pemerintah, sebelumnya pada tahun 2015 lalu produktivitas padi mencapai kurang lebih 18.000 ton CKG dengan luas baku lahan 7.380 Ha dan luas tanaman 4.799 Ha. Tingkat produktivitasnya yang sebelumnya atau Tahun 2014 lalu  sangat rendah hanya 3,75 Tin Perhektar, dengan pola tanam sekali setahun.

Selain infrastruktur yang kurang memadai, sehingga kesulitan dalam mewujudkan  tata kelola aie yang memungkinkan untuk meningkatkan pola tanam menjadi IP 200, juga kesulitan mendapatkan benih unggul.

Kabupaten Pelalawan dengan upaya inovasi telah memiliki 5 varietas padi unggul pasang surut yang telah dilepas dan launching yakni varietas cekau, karya, boni, mendol dan inpara Pelalawan mempunyai potensi 8,2 Ton. Dengan segala keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta dan infrastruktur pembenihan pada tahun 2013 lau, pihaknya mulai menghasilkan 5,5 Ton benih bersertifikat.

Diketahui tahun 2018 hasil panen padi sudah mencapai lebih dari 4,1 ton atau sekitar 24 persen dari kebutuhan, sehingga ketergantungan kebutuhan pokok itu dari daerah lain semakin berkurang.

Untuk peningkatan produksi dan produktivitas  perlu adanya peningkatkan infrastruktur lahan dan air, alsinta dan sarana prasaran pendukung lainnya yakni untuk mendukung upaya peningkatan IP100 ke IP200.

Jika kendala ini dapat diatasi, setidak-tidaknya dari Kecamatan Kuala Kampar ini berpotensi menyumbangkan produksi padi lebih dari 60.000 ton meningkat dua kali dari kondisi saat ini.

Untuk itu, Bupati Pelalawan dua periode itu berharap Kuala Kampar jadi lumhuny padi, apalagi dengan telah ditetapkan Kabupaten Pelalawan sebagai kawasan padi oleh keputusan Menteri Pertanian yang juga merupakan wilayah perbatasan dengan posisi geografis yang strategis.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Pelalawan Ir Syahfalefi  Msi mengatakan, bahwa kebijakan pembangunan pertanian di Kabupaten Pelalawan selalu disinergikan  dengan kebijakan pusat, yang mana Kabupaten Pelalawan  melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 380 Tahun 2016 sampai saat ini ditetapkan sebagai kawasan  pengembangan padi.

Kebijakan itu dijelaskannya, khusus kawasan padi Kecamatan Kuala Kampar masuk kedalam grand design lumbung pangan berorientasi ekspor wilayah perbatasan. Oleh karena itulah melalui program strategis Pelalawan makmur, pihaknya terus bersinergi dengan berbagai pihak mewujudkan Pelalawan EMAS melalui pembangunan jangka menengah dalam rencana strategis 2016-2021.

Disebutkannya, isu strategis peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani secara nasional juga menjadi isu strategis di Kabupaten Pelalawan, maka dari itu, Pemkab sadar bahwa pembangunan pertanian tidak bisa dilakukan sepenggal-penggal, harus komprehensif, mulai dari hulu budidaya sampai hilir pasca panen.

Di Kabupaten yang berdiri sejak tahun 1999 itu, dipaparkan Syahfalepi dibagi berdasarkan kontur tanah contohnya manggis di Kecamatan Langgam dan cabai di beberapa Kecamatan, kendati demikian, pihaknya terus melakukan percepatan pengembangan kawasan pertanian diantaranya untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi.

Syahfalefi menambahkan, bahwa pihaknya menyadari kalau perkembangan teknilogi pertanian begitu pesat, oleh karena itu kelembagaan tani dan gapoktan yang ada harus didorong untuk bertransformasi menjadi kelembagaan petani yang berorientasi agribisnis. Maka dengan semangat gerakan inovasi menuju Pelalawan Emas harus melakukan terobisan pengembangan model cooperative farming yang telah dilakukan belum lama ini.

Terakhir, Syahfalefi mengatakan yang menjadi ermasalahan pasca panen secara sudah dibangun melalui APBD Kabupaten Pelalawan Tahun 2018 sebanyak 2 unit mesin enggineering vertikal dryer kapasitas 10 Ton di Desa Sei Upih dan satu unit lagi berada pada satu paket SP3T.***


R24/phi/ardi/adv